Sumedang, 21/7 (ANTARA) - Makam Marongge tetap menjadi tempat wisata budaya andalan Kabupaten Sumedang, khususnya setiap bulan, pada Jumat kliwon makam keramat ini ramai dikunjungi peziarah dari dalam dan luar kota.

Wakil Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kab. Sumedang, Engkos Kosasih di Sumendang, mengatakan itu, Rabu, dan menyebutkan makam Marongge sudah sejak lama tersohor.

"Banyak yang percaya bahwa jika berziarah ke makam Marongge sudah terkabul keinginannya. Hanya saja memang kekhasan para pengunjung yang berziarah kebanyakan yang ingin mendapatkan jodoh," jelasnya.

Para peziarah setiap malam Jumat kliwon, setelah melakukan ritual kemudian beramai-ramai mandi di sebuah kali yang jaraknya tidak jauh, di bawah makam Marongge.

Selain malam Jumat Kliwon pun makam ini ada saja yang mengunjungi, namun tidak sebanyak pada malam Jumat Kliwon.

Menurut sejarahnya makam Marongge, adalah makam embah Gabug dan tiga saudaranya bernama, embah Sedayu, embah Naibah dan embah Naidah putri raja yang meninggal sebelum mereka mendapatkan jodohnya.

Keempat putri tersebut sangat cantik, anggun dan menarik serta sakti, sehingga seluruh raja-raja ingin meminangnya dan menjadikan sebagai permasuri.

Keempat putri tersebut kemudian mengadakan sayembara, barang siapa yang bisa menarik kembali sebuah 'kukuk' (buah labu) yang dihanyutkan di sungai, maka orang itulah yang akan menjadi suaminya.

Ternyata, tak seorang pun raja yang berhasil memenangkan sayembara tersebut. Para raja tidak bisa mengalahkan kesaktian para keempat putri raja tersebut.

Karena kesaktian keempat putri itulah, akhirnya makam mereka dikeramatkan dan diberi nama Marongge. Oleh Pemda kabupaten Sumedang pun Makam Marongge telah ditetapkan sebagai Wisata Budaya dan Wisata ziarah. ***4***