Ngamprah, 24/8 (ANTARA) - Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) diminta ikut mengawasi keamanan perairan waduk, karena petani jaring apung (japung) Cirata sering menjadi korban pencurian ikan.

Ketua Pokmas Ikan Cirata, Sundaya, Selasa, mengatakan selama ini pihak BPWC terkesan hanya memungut uang izin penempatan lokasi (IPL) dari para petani ikan, tanpa memperhatikan fasilitas dalam menunjang keamanannya.

"Kami harapkan juga ada perhatian serius dari Polda Jabar terhadap kasus yang menimpa petani Japung Cirata. Bisa saja, Polda membentuk Pol air sebagai bentuk pengawasan dan memudahkan petani japung untuk menyampaikan keluhannya," kata Sundaya.

Japung di perairan Waduk Cirata memang rawan pencurian. Hampir tiap bulan terjadi kasus pencurian ikan, puncaknya terjadi pada Desember 2009, sebanyak 50 ton ikan hilang digondol kawanan maling. Aksi pencurian dilakukan secara berkelompok. Penjahat spesialis pencurian ikan ini, dalam aksinya tidak segan-segan melakukan kekerasan terhadap korbannya.

Menurut Sundaya, untuk mencegah terjadinya aksi pencurian ikan kembali terjadi, petani Japung Cirata membentuk kelompok masyarakat pengawas (pokmas) ikan. Keberadaan pokmas ikan diharapkan bisa mempersempit ruang gerak komplotan pencuri ikan.

Dijelaskannya, akibat aksi yang dilakukan oleh kawanan maling ikan tersebut telah menyebabkan para petani ikan semakin resah. Pasalnya, hampir setiap bulannya aksi pencurian selalu terjadi dalam jumlah yang besar.

"Tak hanya itu, perampok ikan itu sangat sadis. Bahkan sempat terjadi penenggelaman terhadap seorang petani yang berani memberikan perlawanan terhadap mereka. Makanya, kita tidak ingin terus berlanjut tapi harus dihentikan," ujarnya.

Sementara itu, japung di Waduk Cirata dan Saguling sudah melebihi batas toleransi. Di Waduk Cirata jumlah japung saat ini sebanyak 17.000 unit. Padahal batas toleransi berkisar antara 4.000 sampai 5.000 unit. Begitu pun dengan Waduk Saguling yang batas toleransinya berkisar antara 3.000 unit sampai 4.000 unit japung namun pada kenyataannya sudah mencapai 7.000 unit.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) KBB, Adiyoto menuturkan, terlalu banyaknya japung menurunkan kualitas perairan. Perlu dilakukan segera penataan supaya fungsi daya dukungnya kembali seperti semula. Banyaknya jarpung menimbulkan persoalan bagi petani jaring terapung sendiri, sebab banyaknya sisa makanan ikan membuat kualitas air menurun.

Semakin banyak japung menurunkan produksi ikan, disebabkan daya dukung airnya mengalami penurunan. Sebelum japung banyak seperti sekarang, produksi ikan di Cirata sekitar 100 ton/hari. Tapi seiring dengan terus bertambahnya japung, produksinya menurun tinggal 50 ton/hari.

"Ada tantangan bagi kami untuk menertibkan jumlah japung yang melebihi kapasitas itu. Namun, demikian kita harus hati-hati dalam menanganinya. Karena menyangkut kebutuhan hidup orang banyak," pungkasnya.***1***