Sumedang, 22/10 (ANTARA) - Para petani Desa Pangadegan, Kecamatan Rancakalong yang tergabung dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Kopi Paniis sukses mengembangkan dan memproduksi kopi luwak.

Jumlah petani mencapai 325 dan mulai mengembangkan kopi luwak tahun ini, karena nilai jual kopi tersebut sangat mahal dan laku pasaran. Dalam setiap kali musim panen biji kopi dari petani yang dikumpulkan ke Gapoktan Kopi Paniis bisa mencapai 15 ton.

Ketua Gapoktan Kopi Paniis, Engkos Sukarya, Jumat, menjelaskan, dari 15 ton kopi yang terkumpulkan, sekitar 2.5 ton diolah menjadi kopi luwak. Harga bubuk kopi luwak siap saji sangat mahal, mencapai Rp150 ribu dalam kemasan per kilogram.

"Bubuk kopi Luwak berasal dari biji-biji kopi yang sudah dimakan dan dikeluarkan lagi oleh Luwak atau musang," jelas dia.

Untuk mengembangkan Kopi dari hasil kotoran Luwak itu, lanjut Engkos, dapat dikatakan gampang-gampang susah. Luwak bisa dikatagorikan binatang apik karena tidak semua biji kopi yang bisa dimakan luwak.

"Kopi yang dikumpulkan dari para petani mencapai 15 ton, yang dapat dimakannya Luwak hanya sekitar 2.5 ton saja," kata dia.

Cara memproduksi biji kopi Luwak hingga menjadi bubuk kopi siap seduh, kata Engkos, mulanya biji kopi diberikan kepada Luwak untuk dimakan.

Biji kopi yang kemudian diberakan Luwak tidak hancur dan masih utuh. Biji kopi itulah yang kemudian dikumpulkan utnuk bibersihkan, disangrai dan diolah menjadi kopi bubuk bernilai ekonomi tinggi.

Gapoktan Kopi Paniis saat ini memiliki baru memiliki 20 ekor luwak yang dipelihara sejak empat bulan ini. Dalam setahun, para petani dapat memanen kopi empat bulan sekali. Perkebunan kopi milik Perum Perhutani itu telah ada sejak jaman Belanda, bahkan sampai saat ini masih tumbuh tiga pohon yang sudah berumur puluhan tahun. ***2***